Distribution and Comparative Advantage of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) Production in Indonesia: A Location Quotient (LQ) Analysis
Abstract
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang pesat telah mendorong peningkatan konsumsi cabai rawit secara signifikan, yang pada gilirannya memicu permintaan. Konsumsi rumah tangga cabai rawit tercatat meningkat sebesar 8,64% pada tahun 2023, 1,59% pada tahun 2024, dan diproyeksikan meningkat sebesar 3,23% pada tahun 2025. Tren ini berpotensi mempengaruhi produksi dan harga komoditas cabai rawit. Menyikapi hal tersebut, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional akan mencanangkan Gerakan Pangan Murah (GPM) pada tahun 2025, dengan fokus pada perluasan distribusi cabai rawit ke daerah-daerah nonsentral. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan menggunakan analisis Location Quotient (LQ) untuk mengidentifikasi provinsi-provinsi yang memiliki keunggulan komparatif dalam produksi cabai rawit. Data diambil dari 33 provinsi dan 18 provinsi diidentifikasi sebagai produsen komoditas unggulan (nilai LQ ≥ 1), dengan Gorontalo, Papua, dan Aceh menempati posisi teratas. Provinsi-provinsi unggulan tersebut diharapkan dapat berfungsi sebagai sentra produksi utama penopang pasokan nasional dan menjadi titik distribusi strategis dalam pelaksanaan GPM, sehingga pemerintah dapat mengoptimalkan subsidi transportasi dan memperkuat rantai pasokan dari daerah unggulan ke daerah nonunggulan.











